Lion : define the place where you belong
Saat menonton trailer film "Lion" pada tahun 2016, saya sudah sangat tertarik untuk melihatnya jika nanti dirilis di Indonesia terlebih ketika melihat scene di akhir trailer (2:10 - 2:14), the ending kicks me in the guts every time!
Kabar baiknya adalah saya berkesempatan menghadiri Opening Reception of Festival Sinema Australia Indonesia 2017 pada tanggal 26 Januari 2017 lalu di Senayan City dan diputar pula premiere film Lion! Infinite thanks goes to the Australian Embassy in Jakarta for the invitation!
![]() |
| Terimakasih Australian Embassy for the invitation and the cute goodiebag! |
Mudah saja bagi saya menjawab saya orang Jawa ketika ditanya asli mana karena saya yang lahir di Jawa, dari ayah ibu Jawa dan menghabiskan sebagian besar kehidupan di Pulau Jawa. Tetapi, walaupun saya lahir dan besar di Pulau Jawa dan ketika ditanya "kamu asli mana", saya tidak benar-benar bisa menjawab secara singkat, padat dan jelas seperti "saya asli ... (isi nama kota/daerah karena jika hanya sebutkan nama pulau, biasanya orang akan lanjut bertanya di kota mananya)".
Saya lahir di Jakarta, namun sejak kecil tidak pernah menetap lama di Jakarta, hanya liburan akhir tahun atau kenaikan kelas mengunjungi Eyang. Ayah yang bekerja sebagai pegawai pemerintah mendapat tugas yang mengharuskannya untuk berpindah-pindah kota. Setelah saya lahir, Ayah mendapat tugas untuk mengabdi di kota Banjarmasin, maka diboyonglah kami sekeluarga, Ibu beserta kakak perempuan saya ke Banjarmasin. Lalu 2 tahun kemudian, Ayah dipindahtugaskan ke Semarang, maka berpindahlah kami dari Banjarmasin ke Semarang (adik perempuan saya lahir di Semarang). Saya menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanak dari TK sampai dengan SMP di Semarang. Setelah lulus SMP, Ayah dipindahtugaskan ke Kupang dan saat itu kami tidak lagi mengikuti Ayah berpindah kota dan selanjutnya, saya dan 2 saudara perempuan saya disekolahkan di Jogja, kota kelahiran dan asal Ayah.
Kalau disusun masa infant sampai sekarang ini kira-kira menjadi begini:
Banjarmasin : 2 tahun (infant)
Semarang : TK - SMP = 11 tahun
Yogyakarta : 3 tahun (SMA) + 5 tahun (masa kuliah dan masa setelah lulus kuliah) = 8 tahun
Semarang : TK - SMP = 11 tahun
Yogyakarta : 3 tahun (SMA) + 5 tahun (masa kuliah dan masa setelah lulus kuliah) = 8 tahun
Jakarta : mulai bekerja di Jakarta dari akhir tahun 2014 sampai sekarang memasuki tahun 2017 = sedang jalan 3 tahun tetapi sangat berusaha pulang ke Jogja setiap 2 atau 3 bulan sekali dan syukur kalau bisa 1 bulan sekali
Bisa dilihat jumlah terlama tahun yang dihabiskan ialah di kota Semarang, nah apakah bisa pertanyaan "kamu asli mana" dijawab dengan "saya asli Semarang" ? Sepertinya tidak.
Ketika ditanya saat masa sekolah di Jogja "kamu asli mana", saya menjawab "saya dari Semarang tapi bukan asli Semarang". Dan jawaban itu dilanjutkan dengan penjelasan seperti orang tua asli ..., lahir di ... dan rumah di ....
Ketika ditanya saat masa awal-awal kerja di Jakarta "kamu asli mana", saya menjawab "saya dari Jogja tapi bukan asli Jogja." Dan jawaban itu dilanjutkan dengan penjelasan seperti orang tua asli ..., lama tinggal di ... tapi rumah di ....
Namun hal itu berubah seiring berjalannya waktu, dan saat ini ketika ditanya asli mana, saya selalu menjawab "Jogja".
Dalam hal ini, bukanlah tempat kelahiran yang menentukan dimana saya merasa berada tetapi konteks rumah itu sendiri.
Rumah yang dalam hal ini adalah
tempat dimana keluarga dan orang yang saya sayangi dan orang yang saya ingin habiskan waktu bersama berada
tempat dimana saya ingin menghabiskan waktu dan pulang ketika weekend, hari libur panjang, atau hari raya
tempat dimana saya mengenal wajah-wajah, sudut kota, desa, jalan dan mengingatnya sejelas siamg hari
dan tempat itu adalah Jogja.
Kurang lebih karena hal itulah yang membuat saya sangat tertarik melihat Lion yang juga mengisahkan tentang pencarian identitas dan jati diri - saya suka sekali dengan topik seperti ini dan semakin membuat kisah Saroo ini sangat relatable (topik undergraduate thesis saya juga berkisar tentang pencarian jati diri seorang remaja keturunan Italia yang lahir dan besar di Australia).
(Spoiler ahead)
Saat berumur masih sekitar 5 tahun, Saroo mendapati dirinya tersesat jauh dari rumahnya ketika tidak sengaja tertidur di dalam kereta yang menuju Calcuta. Ia terpisah dari keluarga yang sangat menyayanginya, kakak laki-laki (Guddu), Ibunya (Ammi, panggilan Saroo untuk Ibu dalam bahasa Hindi karena di film tidak disebutkan nama Ibunya dan karena Saroo yang hilang sejak kecil belum tahu nama Ibunya sendiri), dan dua adik perempuannya.
Ketika melihat film ini, agak mendapat impresi bahwa laki-laki di Kalkuta digambarkan sebagai komplotan penjahat atau pedofil, mungkin penggambaran terlalu timpang tetapi karena ini adalah sebuah film maka kemungkinan hal itu dipercaya sang sutradara akan menambah efek dramatis dan membuat penonton makin terhanyut dengan perjuangan Saroo kecil - terbukti saya salah satunya, teman- teman saya salah duanya dan mungkin masih banyak lainnya. Namun sebenarnya yang paling memikat hati ialah chemistry dari Indian child actors yang memerankan young Saroo dan Guddu, salute!
Digambarkan dengan sangat gamblang kondisi Kalkuta saat itu dimana orang-orang mengacuhkan Saroo ketika ia meminta bantuan untuk kembali ke rumah dan maraknya penculikan dan perdagangan anak - bahkan Saroo pun menjadi salah satu anak yang berhasil lolos dari komplotan penculikan anak. Saroo bertahan selama 2 bulan di jalanan sebelum akhirnya ditolong oleh seorang pemuda yang membawanya ke kantor polisi dan akhirnya memasukkan Saroo ke dalam panti asuhan. Dari sinilah kisah Saroo di ujung dunia lain dimulai.
Walaupun bisa dikatakan lebih baik daripada hidup di jalanan-lebih baik karena anak-anak terjamin makanannya dan juga mengikuti kelas, kehidupan di panti asuhan juga tampak mencekam dan terlebih lagi ketika seorang anak laki-laki dipaksa bangun dari tempat tidurnya di malam hari oleh petugas panti asuhan dan diserahkan kepada seorang bapak yang tampak sudah middle age -dari perbincangan tampak bahwa bapak tersebut adalah seorang pedofil atau komplotan perdagangan anak- dan diminta oleh petugas panti agak mengembalikan anak tersebut ke panti esok pagi. Nasib Saroo berubah ketika sebuah keluarga Australia menawarkan diri untuk mengadopsi dirinya melalui jasa panti asuhan tersebut dan setelah menjalani persiapan maka diboyonglah Saroo ke Australia.
Pergolakan batin Saroo terjadi ketika dirinya beranjak dewasa. Saroo dewasa diperankan oleh Dev Patel (dalam balutan tubuh ala Chris Hemsworth). It's a truly long way of haven't seeing him because the last time was in The Last Airbender and I haven't seen him in The Man Who Knew Infinity and he wasn't even that huge in those two films.
Saat seseorang perlu mengetahui tempat dimana dia berada seharusnya dan memanggil tempat tersebut rumah ialah saat dimana orang tersebut sendiri, berada jauh dari keluarga dimana orang-orang lain menanyakan rumah dan asal.
Saat itulah seseorang memerlukan identitasnya sendiri dan dalam hal ini Saroo merasa perlu mentutaskan hal tersebut. Ia anak adopsi yang hidup bahagia dengan keluarga angkatnya yang adalah white people.
Dalam penggambaran di film, terlihat bahwa selama dibesarkan, Saroo tidak pernah terekspos budaya dimana ia lahir dan berasal yaitu India, tidak bisa berbahasa India, jarang atau bahkan tidak pernah memakan masakan khas India. Hal itu membuatnya disconnected ketika bertemu dengan sesama mahasiswa India dan menanyakan "dari bagian India mana kamu berasal" ataupun ketika untuk pertama kalinya memakan kue khas India. Dan semua hal itu bertubi-tubi terjadi saat dirinya berada jauh dari keluarga angkatnya. Hal inilah yang membuat Saroo dewasa merasa tersesat lagi, sama seperti yang dirasakan oleh Saroo kecil. Hal inilah yang menjadikan Saroo terpacu untuk mencari rumah Saroo kecil dimana keluarga kandungnya sangat menyayanginya.
(the ending spoiler-you've been warned)
Dengan menggunakan bantuan Google Earth selama beberapa tahun, akhirnya Saroo berhasil menemukan rumah dan bertemu dengan Ibu dan saudara perempuannya dan harus menghadapi kenyataan bahwa kakak kesayangannya, Guddu, telah meninggal.
Brief timeline dari kisah Saroo yang sangat menakjubkan ini
1981 Saroo lahir di Khandwa, India
1986 Saroo naik ke kereta yang tidak didasari menuju Kalkuta
1981 Saroo lahir di Khandwa, India
1986 Saroo naik ke kereta yang tidak didasari menuju Kalkuta
1987 Saroo diadopsi oleh John dan Sue Brierley dan besar di Tasmania, Australia
2007 Saroo memulai pencarian rumahnya menggunakan Google Earth
2011 Tanggal 31 Maret, Saroo berhasil menemukan rumah melalui Google Earth
2012 Saroo datang ke India pada bulan Februari dan bertemu dengan keluarganya
2012 Saroo datang ke India pada bulan Februari dan bertemu dengan keluarganya
2013 Ibu adopsi Saroo bertemu dengan ibu kandung Saroo di India
Info tambahan yang saya dapat tidak dari film karena di film tidak diceritakan bagaimana kehidupan Saroo setelah menemukan rumah dan tidak saya dapat pula dari membaca kisah Saroo dari internet karena kisah ini diceritakan oleh Saroo sendiri. Di akhir penayangan film, diadakan sesi Q&A kepada the real Saroo yang datang secara khusus ke Indonesia untuk menghadiri premier Lion.
Setelah menemukan rumah masa kecil di India dan reconcile with his long-lost family, Saroo akhirnya mendapatkan closure. Saroo kembali ke Australia dan menetap di sana dengan tetap melakukan kunjungan regular ke India untuk mengunjungi ibu kandungnya.
![]() |
| Saroo Brierley menjawab pertanyaan dalam sesi Q&A saat Premier Lion saat Festival Sinema Australia, Jakarta (26/01/2017) |
Dalam hal ini, menemukan rumah atau tempat dimana keluarga kandung berada bukan berarti tempat dimana seseorang seharusnya berada. Bukan berarti ketika Saroo menemukan ibu kandungnya maka ia bergegas menetap dan tinggal di India. Akan sulit bagi Saroo untuk beradaptasi di India jika ia memutuskan langsung menetap di India dalam seketika apalagi untuk hidup di India dalam jangka waktu lama, namun hal itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Alasan mengapa Saroo menganggap saat ini hal yang paling memungkinkan adalah menetap di Australia karena Australia juga sudah menjadi rumah baginya dan rumah bagi keluarganya. Dan sampai saat ini Australia adalah tempat dimana ia berada, a place where he belongs and a place that he could call home too.
![]() |
| Saat ibu kandung Saroo bertemu dengan ibu adopsi Saroo |






Comments
Post a Comment