Titik Biru Pucat : Kecongkakan Manusia
Ciputat. 13 Mei 2018
Hari ini, di Surabaya tanggal 13 Mei 2018, terjadi ledakan bom bunuh diri di 3 gereja yang menelan banyak korban. Sebelumnya di Depok juga terjadi penyekapan aparat keamanan oleh narapidana teroris dan juga menelan korban.
Dari semua yang terjadi, menunjukkan kebiadaban manusia, kebencian manusia terhadap manusia lainnya sehingga mereka tega melakukan hal tersebut.
Sulit untuk menulis hal ini dengan air mata menggenang dan sambil mendengar lagu dari Kimi No Nawa.
Bagaimana seorang manusia mempunyai perasaan kebencian yang sangat kepada manusia lainnya sampai menyiksa, membunuh, membom?
Betapa congkaknya manusia.
Sadarkah kalau manusia yang tinggal di Bumi itu hanya setitik kecil di galaksi yang luas ini? Sadarkah?
Tapi mengapa penghuni di titik kecil yang disebut Bumi itu merasa paling jumawa? Merasa dirinyalah yang paling benar, merasa paling kuat, merasa paling tidak berdosa, menghakimi orang lain.
Kau ini hanya penghuni di titik kecil itu tapi mengapa kau mengambil ruang yang sangat besar? Kebencianmu sangat lah besar sampai tidak terbendung, sampai menyakiti.
(tambahan per tanggal 14 Mei 2018)
Mengetahui fakta bahwa para pelaku pengeboman turut membawa serta anak mereka yang masih kecil dan remaja dan menjadi korban juga dalam peristiwa kemarin kembali membuat saya menangis, fakta bahwa ada anak kecil yang pagi itu juga hanya ingin mengikuti misa di gereja juga ikut turut menjadi korban membuat saya menangis.
Adik kecil saya saat ini telah pindah kerja di Jogja namun tahun lalu adik bekerja di Surabaya dan kos yang dia tinggali terletak dekat dengan salah satu gereja yang dibom, Gereja Santa Maria Tak Bercela. Dia selalu mengikuti misa di gereja tersebut dengan rekan kantornya karena sangat dekat dengan kos, hanya berjalan sekitar 10 menit. Bayangan kalau adik saya juga dapat turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut turut membuat saya tersentak dan sedih. Hal ini juga sama dengan peristiwa tahun 2001 pengeboman di gereja Santa Anna di daerah Kalimalang Duren Sawit dimana Eyang Putri saya dan keluarga tante dan om saya menunaikan misa di gereja tersebut karena dekat dengan rumah Duren Sawit.
Hal tersebut bisa terjadi pada siapapun, bahkan anggota keluarga anda dan membuat patah hati. Geram, sedih, menangis, mengutuk tapi tidak cukup. Mengakui bahwa ada yang salah di negeri ini, ada yang salah, banyak kebencian yang merajalela dan hanya segelintir orang yang mau mengakui.
Carl Sagan, Pale Blue Dot
“Tataplah lagi titik itu.
Titik itulah yang dinamai ‘di sini.’
Itulah rumah. Itulah kita.
Di satu titik itu semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu dengar namanya, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka.
Titik itulah yang dinamai ‘di sini.’
Itulah rumah. Itulah kita.
Di satu titik itu semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu dengar namanya, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka.
“Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, pemikiran, dan doktrin ekonomi yang menganggap dirinya benar, setiap pemburu dan perambah, setiap pahlawan dan pengecut, setiap pembangun dan penghancur peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu dan ayah, anak yang bercita-cita tinggi, penemu dan penjelajah, setiap pengajar kebaikan, setiap politisi busuk, setiap “bintang pujaan”, setiap “pemimpin besar”, setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah spesies manusia, hidup di sana. Di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.
“Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya arena kosmik. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan maharaja sehingga dalam keagungan dan kejayaan itu, mereka dapat menjadi penguasa sementara di sebagian kecil dari titik tersebut. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa siap mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa bergejolak kebencian mereka.
“Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.
“Bumi adalah satu-satunya dunia yang, sejauh ini, diketahui memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya sampai beberapa waktu ke depan, yang bisa dijadikan tempat tinggal. Ada yang bisa kita kunjungi, tetapi belum ada yang bisa kita tinggali. Suka atau tidak, untuk saat ini, Bumi adalah satu-satunya tempat kita hidup. Sering dikatakan bahwa astronomi adalah sebuah pengalaman yang menumbuhkan kerendahan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tak ada yang dapat menunjukkan laknatnya kesombongan manusia secara lebih baik selain citra dunia kita yang mungil ini.
Bagiku, gambar ini mempertegas tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik terhadap satu sama lain, dan menjaga serta merawat sang titik biru pucat, satu-satunya rumah yang kita kenal selama ini.”
Bagiku, gambar ini mempertegas tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik terhadap satu sama lain, dan menjaga serta merawat sang titik biru pucat, satu-satunya rumah yang kita kenal selama ini.”
---spread---peace---and---love---not---hate---
Ketika
mengetahui tentang Carl Sagan dan Titik Biru Pucat dan menyadari bahwa banyak
sekali kebencian terjadi.
Apakah
kamu tidak merasa terhenyak?
Don't you
feel move by this?
Do you
realize how arrogant we are?
We're so
small but yet we feel so great about ourselves.
We should
feel shame.
There's a
saying :
Be humble
for you are made of earth
Be noble
for you are made of stars
Mengajarkan
kepada kita bahwa kita harus lah merasa rendah hati karena kita terbuat dari
tanah, hanya manusia biasa, selalu ingat darimana kita berasal, akar kita,
janganlah merasa paling jumawa, paling benar, paling tidak berdosa, menghakimi
orang lain, mengambil nyawa orang lain, menyakiti, membenci. Tapi hal itu juga
mengingatkan kbahwa kita adalah makhluk mulia dan special karena kita berasal
dari bintang-bintang, miliaran sel manusia berasal dari bintang, merupakan
bagian dari alam semesta ini, bintang-bintang mewakili mimpi.
Maka
menjadi manusia yang mulia penuh mimpi dan mewjudukan mimpi tersebut dengan
tetap rendah hati pada saat yang bersamaan, memuliakan sesama manusia, Pencipta
Semesta, tumbuhan, hewan, sumber daya alam di Bumi ini.
Tepat
seperti apa yang dikatakan oleh Carl Sagan :
Untukku,
hal ini menggarisbawahi tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik satu
sama lain, dan untuk menjaga dan merawat titik biru pucat,
satu-satunya
rumah yang kita pernah tahu.
Semoga
lebih banyak orang memahami hal ini dan terbuka akan indahnya Semesta ini.

Comments
Post a Comment